Minggu, 14 Oktober 2012

Keterampilan Memberi Penguatan


KETERAMPILAN MEMBERI PENGUATAN
I.          PENGERTIAN
Pernahkah Anda memberikan apresiasi dengan mengatakan “Yah, sebuah pemikiran yang brilian dalam diskusi kita ini, hebat!!”, memberikan isyarat acungan jempol kepada peserta didik yang mempunyai ide cemerlang dalam sebuah diskusi atau memberikan aplaus dengan tepuk tangan setelah seorang peserta didik selesai mempresentasikan makalahnya di kelas? Kalau pernah, berarti Anda telah melakukan proses yang disebut penguatan dalam pembelajaran.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka yang dimaksud dengan penguatan di sini adalah suatu bentuk penghargaan terhadap suatu perilaku baik/positif yang dilakukan agar merangsang siswa tersebut melakukan atau mengulangi perbuatan yang baik tersebut. Dengan penguatan diharapkan akan muncul motivasi meningkatkan diri bagi yang diberi penguatan serta mendorong orang lain di sekitarnya melakukan hal yang sama atau lebih baik lagi.
Memberikan penguatan ini kelihatannya sangat sederhana, namun mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi siswa. Bayangkan seandainya siswa telah berusaha untuk menunjukkan pekerjaan yang baik, akan tetapi guru bersikap acuh tanpa memberi komentar apapun, dapat membuat siswa patah semangat. Penghargaan dari guru sebenarnya tidak berat, cukup dengan anggukan, senyuman, pujian atau bahkan acungan ibu jari, namun kenyataannya masih banyak yang tidak melakukannya.

II.       TUJUAN PEMBERIAN PENGUATAN
Pemberian penguatan tidak hanya untuk memberikan motivasi, tapi juga mempunyai tujuan lain. Paling tidak ada lima tujuan dalam hal pemberian penguatan, yaitu:
a.       Penguatan dapat meningkatkan perhatian peserta didik pada pelajaran yang diajarkan
b.      Penguatan dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik
c.       Memudahkan peserta didik untuk belajar
d.      Mengurangi tingkah laku yang negatif serta membina tingkah laku positif pada diri peserta didik
e.       Menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri siswa

III.     KOMPONEN PENGUATAN
Komponen Pemberian Penguatan terbagi atas 3 hal, yaitu:
1.      Penguatan Verbal
Penguatan termudah yang dapat dilakukan dan digunakan dalam kegiatan pembelajaran oleh guru setelah siswa “dapat” melakukan sesuatu adalah Penguatan secara Verbal. Biasanya penguatan ini diutarakan dalam bentuk kata-kata atau kalimat pujian, penghargaan, pengakuan, dorongan, dan persetujuan dan sebagainya.
Contoh kata-kata Penguatan Verbal antara lain:
-       Bagus, luar biasa, baik, pintar, ya, benar, tepat sekali.

2.      Penguatan Non-Verbal
Penguatan non-verbal adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap peserta didik selain menggunakan lisan, dalam hal ini dinyatakan dengan bahasa tubuh (body language). Penguatan non verbal diberikan dengan cara berikut ini:
a.       Mimik dan gerakan badan
Penguatan ini dapat diberikan guru dengan cara tersenyum, anggukan, tepukan tangan, acungan jempol, atau gelengan kepala. Dan dapat pula dilakukan secara bersama-sama dengan penguatan verbal. Misalnya, ketika mengucapkan kata “bagus” guru tersenyum sambil mengacungkan jempol.
b.      Gerak mendekati
Tujuan gerak mendekati adalah memberikan perhatian, memperlihatkan rasa senang dan puas akan pekerjaan siswa, dan memberikan rasa aman kepada siswa. Penguatan ini juga dapat dilakukan bersama-sama dengan penguatan verbal. Misalnya, saat guru mengucapkan kata-kata penguatan,
guru mendekati siswa atau kelompok siswa.
c.       Sentuhan
Penguatan ini dapat diberikan dengan cara menepuk-nepuk bahu atau pundak siswa, menjabat tangan atau mengangkat tangan siswa layaknya pemenang pada suatu permainan. Yang perlu diperhatikan guru adalah umur, jenis kelamin, dan latar belakang budaya siswa, karena penguatan ini hanya sangat sesuai dan efektif bagi siswa TK atau SD (kelas I-VI). Untuk siswa yang dewasa mungkin dianggap melanggar norma susila.
d.      Kegiatan yang menyenangkan
Dengan memberikan kegiatan yang menyenangkan siswa maka kemungkinan siswa akan mancapai suatu peluang berprestasi menjadi lebih besar. Contoh kegiatan yang menyenangkan misalnya, siswa yang berhasil terlebih dahulu menyelesaikan tugas matematika diberi kesempatan untuk mengajari teman-temannya.
e.       Pemberian simbol dan benda
Penguatan jenis ini hendaknya diberikan secara berkala. Jangan terlalu sering dilakukan agar siswa tidak memandangnya sebagai satu target dari penampilannya. Simbol penguatan dapat berupa tanda (V), komentar pada buku siswa, berbagai tanda dengan berbagai warna. Pemberian benda dapat berupa benda-benda kecil yang harganya tidak mahal tetapi menjadi bermakna bagi siswa yang menerimanya.

3.      Penguatan tak penuh
Seperti namanya, pemberian penguatan tak penuh diberikan kepada siswa untuk jawaban atau pekerjaan siswa yang hanya sebagian saja yang benar, sedangkan sebagian lagi masih perlu diperbaiki. Usahakan agar siswa memahami kualitas jawaban yang diberikannya agar penguatan yang diberikan menjadi bermakna.

IV.    PRINSIP PENGUATAN
Penguatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Untuk itu seorang tenaga pendidik harus memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan dalam memberikan penguatan agar penguatan yang diberikan bisa berfungsi secara efektif. Julaeha dan Wardani (2007), mengemukakan prinsip-prinsip pemberian penguatan berikut:
1.      Kehangatan dan keantusiasan
Ada berbagai cara untuk menunjukkan kehangatan dan keantusiasan oleh guru, misalnya dengan wajah yang berseri-seri, senyuman, suara yang riang penuh perhatian, atau apa saja sikap yang dapat menunjukkan kesan bahwa penguatan yang diberikan adalah sungguh-sungguh.
2.      Kebermaknaan
Penguatan yang diberikan guru hendaknya bermakna bagi siswa. Dengan memberikan penguatan yang bermakna, siswa akan menjadi terdorong untuk meningkatkan penampilannya. Jika guru memuji siswa karena melakukan tugasnya dengan baik, maka pujian itu hendaknya benar-benar mampu mendorong siswa untuk menyelesaikan tugasnya lebih baik lagi di masa mendatang.
3.      Hindari penggunaan respon negatif
Respon negatif dapat berupa kata-kata kasar, hinaan, cercaan, dan ejekan. Jika kata-kata tersebut diucapkan guru sebagai respon terhadap hasil kerja siswa yang tidak memuaskan maka guru tersebut sebenarnya telah menghancurkan kepribadian siswa bahkan kelas yang dibimbingnya. Yang sebaiknya, jika siswa telah melakukan kesalahan atau tidak menyelesaikan tugas dengan sempurna hendaknya guru tidak meresponnya secara negatif, tetapi memberikan pemahaman kepada siswa untuk menyadari kelemahannya dan siswa menjadi terdorong untuk memperbaikinya.

V.       CARA MENGGUNAKAN (PENGGUNAAN)  PENGUATAN
1.      Penguatan kepada Siswa Tertentu
Penguatan harus jelas, kepada siapa ditujukan. Sebab bila tidak jelas akan kurang efektif. Oleh karena itu, sebelum memberikan penguatan, guru terlebih dahulu menyebut nama siswa yang bersangkutan sambil menatap kepadanya.
2.      Penguatan Kelompok
Penguatan dapat diberikan kepada sekelompok siswa, misalnya, apabila satu tugas telah diselesaikan dengan baik oleh satu kelas, guru membolehkan kelas itu untuk bermain bola voli yang menjadi kegemarannya.
3.      Pemberian Penguatan dengan Segera
Penguatan seharusnya diberikan segera setelah muncul tingkah laku atau respon siswa yang diharapkan. Penguatan yang ditunda pemberiannya cenderung kurang efektif.
4.      Variasi dalam Penggunaan
Jenis atau macam penguatan yang digunakan hendaknya bervariasi, tidak terbatas pada satu jenis saja, karena hal itu akan menimbulkan kebosanan dan cenderung kurang efektif.

0 komentar:

Poskan Komentar